Keunikan Dukuh Karangkali yang Berada di Dekat Makam Mbah Abdur Rohim

Foto Rumah Warga Karangkali

Pada siang itu, Wahid, Kepala Dukuh Singkil yang membawahi tiga dukuh, salah satunya Dukuh Karangkali, sedang berada di kediamannya yang tak jauh dari lokasi Makam Mbah Abdur Rohim. Dengan senang hati, ia pun mengantar sampai ke lokasi tujuan, yakni makam Mbah Abdur Rohim yang terletak di Dukuh Karangkali, Dusun Singkil, Desa Mentoro, Kecamatan Soko, Kabupaten Tuban.
Wahid bercerita, terdapat dukuh yang bernama Karangkali, di situ, jumlah penduduknya tak lebih dari 30 Kartu Keluarga (KK). “Itu lah uniknya dukuh Karangkali,” papar Wahid kemudian.

Penduduk dukuh Karangkali, tutur Wahid, dari dulu hingga saat ini tidak ada yang berani membuat pagar, baik di perumahan mereka maupun di sepanjang jalan. Katanya, karena dibuat lewatan Mbah Wali dengan karomahnya berupa harimau atau macan. Ditambah, mereka juga tidak berani memelihara sejenis bebek maupun itik, serta kambing jawa (gibas).



Menurut cerita yang beredar, pernah kejadian ada yang perutnya sakit, serta dikejar-kejar ular akibat melanggar pantangan tersebut. Hal itu pun diketahui usai ditanyakan ke orang pintar (orang yang bisa melihat hal-hal gaib). Selain itu, sejauh ini, tidak ada yang berani menebang pohon atau pun mengambil kayu yang berada di lokasi makam. Pun, tempat tersebut, termasuk pohon-pohonnya, kelestariannya terjaga, sebab tak ada yang berani mengusik maupun merusak.

Hingga saat ini, sudah ada 7 generasi juru kunci yang mengabdikan dirinya menjaga makam Mbah Abdur Rohim. Wahid, merupakan cucu seorang juru kunci generasi ketiga. Untuk juru kunci saat ini, terhitung masih baru sebab baru di SK desa sekitar beberapa hari yang lalu. Terkait masa jabatan juru kunci ialah seumur hidup. Artinya, tidak akan diganti selama orangnya masih hidup.



Dijelaskan, juru kunci berkewajiban menjaga makam, memberikan pelayanan terhadap tamu, serta menyelenggarakan kegiatan Haul, sekaligus sedekah bumi yang dilaksanakan sekali di setiap tahunnya.

Sebelum sedekah bumi, dilakukan bersih-bersih terlebih dahulu, kemudian digelar pengajian Haul di malam harinya. Lalu, dilanjut dengan pagelaran wayang kulit yang dilaksanakan sehari semalam. Dan, di malam hari selanjutnya di rumah Kepala Desa. “Tiap tahunnya seperti itu. Dan sudah menjadi rutinitas/ kalender tetap warga sini,” ucap Wahid.

Foto Pegelaran Wayang Kulit saat Sedekah Bumi di Karangkali

Ditambah, Jumat Pahing adalah waktu di mana banyak peziarah berdatangan, tentunya, dengan niat yang beragam. Biasanya, lanjut Wahid, ketika ada seseorang memiliki hajat dan terkabul, sering kali pada melakukan syukuran dan berdoa di depan Mushola pada Jumat Pahing. Biasanya menyembelih ayam, bisa juga kambing, sesuai dengan nazarnya.

Saat pendemi, makam Mbah Abdur Rohim juga masih kerap dikunjungi para peziarah, Khususnya pada Jumat Pahing. Sejauh ini, peziarahnya pun banyak, termasuk dari luar Jawa.

Di pintu masuk, tukas Wahid, kata orang-orang yang bisa melihatnya, terdapat  gerbang dan penjaganya. Siapa pun diperbolehkan datang ke Makam Mbah Wali, asal tidak mengusik maupun mengganggu. Pun, menegur seseorang yang sedang beraktivitas di sekitar makam juga dilarang.



Sesuai himbaun, setiap Jumat Legi makam ditutup, dan tak boleh dikunjungi. Sebab, katanya, di hari itu, Mbah Abdur Rohim sedang bersilaturrahmi ke Mbah Jabar (juga seorang Waliyullah), yang masih memiliki hunungan kerabat dengan beliau.  (Septia Annur Rizkia)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

×
Ada yang bisa kami bantu