Cerita Mistis Makam Mbah Abdur Rohim Karangkali

Sejak lama, Tuban dikenal dengan sebutan Bumi Wali. Banyaknya makam-makam wali yang hampir ada di setiap kecamatan di Tuban, mengundang kedatangan banyak pengunjung yang berasal dari beragam daerah, bahkan luar Jawa.
Salah satunya makam Mbah Abdur Rohim, yang disebut sebagai Pringgondani. Pun, sudah sejak lama, Pringgondani dikenal sebagai tempat yang wingit. Yang dulunya dikenal sebagai tempat pertapaan yang dipercaya sebagai salah satu petilasan Raja Majapahit yang terakhir, yakni Prabu Brawijaya V. Diceritakan, dulunya, Prabu Brawijaya V melarikan diri dari musuh-musuhnya, kemudian meninggal atau disebut moksa di tempat tersebut.



Terkait sejarah yang ada, konon, Mbah Abdur Rohim berasal dari Kerajaan Pajang. Sebagai upaya menghindari konflik perang keluarga dan untuk mencari ketentraman dan kedamaian, beliau pun memilih berpindah di suatu tempat, yang saat ini bernama Dukuh Karangkali, Dusun Singkil, Desa Mentoro, yang terletak di Kecamatan Soko, Kabupaten Tuban.
Dijelaskan Wahid, Kepala Dusun Singkil yang menjabat sedari 2013 hingga saat ini, sebagai keturunan bangsawan atau berdarah biru, Mbah Abdur Rohim juga salah satu Waliyullah yang dikenal dengan karomahnya, yakni macam atau harimau. Selain itu, dikatakan, tanah juga merupakan energi beliau. Hingga, diyakini, tanahnya empuk dan bisa untuk beberapa keperluan. “Yang beredar dan diyakini banyak orang begitu. Benar tidaknya pun, saya sendiri kurang tahu,” ungkap Wahid.



Konon, dahulunya, lokasi tersebut dikelilingi sungai. Sehingga, sering kali dijadikan sebagai tempat persembunyian dari zaman Belanda hingga Jepang. Untuk kondisi saat ini, sudah menjadi dataran, lantaran fenomena alam yang terjadi.
Di dalam bangunan yang sebelah kanannya diapit makam para keluarga maupun abdi dalem, sedangkan sebelah kirinya terdapat makam umum dan para juru kunci yang telah meninggal dunia, di situlah keberadaan makam Mbah Abdur Rohim beserta istrinya.
Diterangkan, makam-makam lama, yang sudah ada sedari dulu, ketika diukur menggunakan kompas, peletakannya lebih tepat dibanding makam-makam baru.
Bagi para peziarah yang kakinya bisa nyampai seukuran makam para keluarga beliau, dipercaya bisa sukses dalam karirnya. Sejauh ini, para pendatang yang menziarahi makam Mbah Abdur Rohim berasal dari beragam daerah, termasuk luar Jawa.

Dulunya, di bawah pohon terdapat patung tanpa kepala dengan empat tangan. Namun, sekitar 2017, hilang karena dicuri. Menurut cerita yang beredar, pencuri patung ialah seesorang yang saat itu sedang belajar ilmu perdukunan. Akan tetapi, setelah mencuri patung dan dirinya tak kuat, akhirnya patung tersebut dibuang ke sungai. Saat ini, kondisi kejiwaan orang itu pun dikatakan sedang terganggu atau tidak baik-baik saja.



Dikisahkan, sekitar 1990, saat Wahid masih kanak-kanak, pernah ada petugas Pemerintah Kabupaten Tuban membawa patung tersebut ke Museum Kambang Putih. Tak beselang lama, anak petugas itu pun menangis terus. Usai patung tersebut dikembalikan lagi ke tempat semula, anak si petugas pun berhenti menangis. (Septia Annur Rizkia)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

×
Ada yang bisa kami bantu