Dikelola Dengan Baik, Pasar Desa Rengel Mampu Menyumbang PADesa Ratusan Juta Rupiah

Dalam perjalanannya, Desa Rengel yang terletak di Kecamatan Rengel, Kabupaten Tuban, merupakan desa mandiri. Ada banyak hal yang melatarbelakanginya. Salah satunya bisa dilihat dari Pendapatan Asli Desa (PADesa) yang bisa membantu menopang perekonomian Desa.
Satu di antara sumber PADesa Rengel ialah dari pasar Desa. Mulai dikelola sedari 1982, ada banyak dinamika yang telah dilalui. Baik dari internal maupun eksternal. Meski begitu, penghasilan pasar desa dari tahun ke tahun mengalami kenaikan. Terlebih sedari 2007, awal mula Mohamad Mokhtar mulai menjabat sebagai Kepala Desa Rengel.
Dikatakan, saat ini terdapat 15 karyawan yang bekerja untuk kelangsungan tata kelola pasar. Mulai dari seorang kepala pasar, bendahara, 6 orang penarik karcis, 3 orang penjaga malam, serta 4 orang petugas kebersihan. Ditambah satu orang yang bertugas menjaga kamar mandi umum pasar.
Diterangkan Ikrari (53), kepala pasar yang terpilih melalui Surat Keputusan (SK) Kepala Desa Rengel sedari 2017 di bawah pemerintahan Mohammad Mokhtar, seluruh retribusi yang ada masuk ke pendapatan pasar. Sehingga, konsep yang diusung ialah dikelola oleh desa, dari desa, untuk desa.



Pun, semua pegawai berasal dari warga lokal Desa Rengel. Sedangkan para penjual yang menyewa tempat, berasal dari beragam wilayah. Meski begitu, keberadaan warga lokal tetap lebih dominan. Ditambah, dengan sistem roling selama 24 jam.

Retribusi yang masuk ke pendapatan pasar berasal dari beragam sumber. Mulai dari sewa los besar hingga kecil, parkir, toko-toko di lingkungan pasar, pasar hewan, dasaran pagi, warung malam, pelanggan listrik bulanan, box/kendaraan roda empat, kamar mandi, dan semacamnya yang berada di lahan pasar.
Disampaikan, untuk mengetahui pendapatan bersih, pendapatan secara keseluruhan dipotong pengeluaran dan intensif para pegawai/karyawan.

Sebelum pandemi, pendapatan bersih rata-rata bisa mencapai Rp 55 juta/bulan, atau berkisar Rp 665 juta/tahun. Sedangkan untuk pendapatan kotor selama 5 tahun terakhir, PA Desaa 2016 sekitar Rp 510 juta, 2017 sekitar Rp 554 juta, 2018 sekitar Rp 577 juta, 2019 sekitar Rp 879 juta, dan 2020 sekitar Rp 899 juta.

Akan tetapi, kesah Ikrari, pendapatan mengalami penurunan semenjak adanya pendemi. “Sementara ini masih belum stabil. Terutama dari Maret 2020 hingga saat ini” ucapnya saat ditemui di kantor Pasar Desa Rengel yang berada di lantai dua Pasar Desa beberapa waktu lalu.
Dijelaskan, target tahun 2020, mestinya pendapatan bersih bisa mencapai Rp 60 juta. Namun, target itu melesat karena kondisi belum stabil seperti sedia kala saat sebelum pandemi.Terkait sistem keuangan, pendapatan bersih masuk desa setiap 5 hari sekali, melalui satu pintu yang telah ditetapkan.

“Sistem keuangan Desa Rengel sudah puluhan tahun benar-benar rapi. Semua keuangan Pasar masuk ke satu pintu. Lalu terkait kurang lebihnya penataan, dari pengelola disampaikan ke Desa. Seperti kenaikan tarif parkir, kemarin masih Rp 1000. Saat kita melihat di mana-mana sudah Rp 2000, kita mengajukan ke desa, membuat surat pengajuan kenaikan tarif parkir. Desa merespon, dengan menerbitkan Peraturan Desa (PERDES),” ujar Ikrari sembari sesekali membenarkan maskernya yang membalut wajahnya.
Berasal dari tanah kas desa yang memiliki luas lahan 11.990 m2 dengan luas bangunan 11.190 m2, kondisi bangunan saat ini tak jauh berbeda sedari awal didirikannya pada tahun 1982.



Dikatakan juga, sistem berdagang di pasar Rengel juga diatur dengan rapi. Semua pedagang Pasar Desa mulanya diharuskan mendaftar terlebih dahulu ke bagian admin pasar yang kantornya terletak di lantai 2 bagian depan pasar. Serta, ketika ada pindah tangan kepemilikan sewa tempat, harus melalui desa. “Kita hanya membuatkan surat pengantar pindah tangan sepengetahuan kepala pasar. Kemudian mereka harus melanjutkannya ke pemerintahan desa,” tandas Ikarari.
Untuk sistem pembayaran sewa tempat pun beragam. Mulai dari yang bayar harian, bulanan, hingga tahunan, akan ada petugas khusus yang keliling menarik uang sewa.
Selain karena pandemi, kondisi yang serba digital atau online, berpengaruh ke jumlah pedagang yang semakin berkurang. Sebab, tak jarang dari mereka yang beralih ke online shop. (Septia Annur Rizkia)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

×
Ada yang bisa kami bantu