Cerita Legenda Gua Ngerong Desa Rengel

Bertemu dengan Samin (60), juru kunci  dari generasi ke 4. Yakni buyut, simbah, bapak, kemudian dirinya. Selama menjadi juru kunci Goa Ngerong yang berada di Dusun Purboyo Mayang, Desa Rengel, Kecamatan Rengel, Kabupetan Tuban, banyak kejadian dan beragam pengalaman yang didapat.

Diceritakan, sejarah Goa Ngerong sudah turun temurun dan menjadi cerita legenda dari dulu, terkhusus di Desa Rengel. Sebelum menjadi tempat wisata, Goa Ngerong dipercaya sebagai tempat untuk meminta suatu hajat atau berdo’a di setiap Jumat Pahing. Dan, masih berlaku pula hingga saat ini.

Nama Ngerong sendiri, kata Samin, sudah ada dari dulu. Ada pula yang mengatakan, dinamakan Ngerong karena bentuk atau wujud dari Goa yang ngerong ke bawah.

Dikisahkan, dahulu, Sebelum Masehi, ada seseorang bernama Ki Jalak Ijo yang tinggal di sekitar Goa Ngerong. Dipercaya, ia merupakan orang yang dari dulu sampai saat ini menjaga tempat tersebut.



Konon, Rengel (nama saat ini) termasuk daerah kering dan tandus. Suatu hari ada seorang perempuan bernama Dewi Laras, yang bertempat tinggal di oro-oro ombo, di atas Goa Ngerong, usai melahirkan dan membutuhkan air. Dengan susah payah (ngerengkel-ngerengkel), Dewi Laras mencari air ke sana ke mari, sampai masuk ke Goa, tetapi tak kunjung mendapatkan. Akhirnya, ia menangis sembari menggendong bayinya.

Mengetahui itu, Ki Jalak Ijo pun iba dan menolong Dewi Laras. Dengan segera, Ki Jalak Ijo menancapkan tongkatnya di sekitar Goa. Setelah tongkat itu dicabut, keluarlah air, beserta ikan-ikan, ular, dan kura-kura, yang masih ada hingga saat ini.

Oleh Ki Jalak Ijo, ikan, ular, kura-kura, maupun semua yang ada di goa merupakan amang-amang/peliharaan yang tidak boleh diganggu. Siapa pun yang berani mengganggu maupun mengambil hewan-hewan tersebut, lanjut Samin, yang pernah kejadian, orang tersebut tertimpa sakit maupun tidak selamat.

Mulai adanya kelelawar, imbuh Samin, sekitar 1990. Saat itu masih di dalam Goa. Karena terus berkembang biak, jumlah kelelawar semakin banyak sampai pada ke luar di dinding-dinding luar goa. Setiap pukul 18.00 WIB, kelelawar pada beterbangan ke luar, dan ketika sudah kenyang, di waktu Shubuh, mereka akan kembali ke tempatnya semula.

“Semuanya. Yang ada di lokasi sini, tak boleh diganggu, apalagi diambil. Di sisi lain, bahayanya kan karena ikan-ikan ini makan kotoran kelelawar yang jatuh,” tutur Samin kemudian.

Disampaikan Samin, panjang Goa Ngerong sekitar 30 km. Di dalamnya belok kanan dan kiri, ada banyak sungai. Kemudian, sekitar 10-15 km dari depan goa, terdapat sumber mata air di bawah tanah yang naik ke atas batu.  Karena saking kerasnya air sampai bisa melompati batu, tambah Samin, diberi nama Grujugan Sewu



Selain itu, aliran air dari Goa Ngerong juga dimanfaatkan untuk pengairan sawah-sawah, terutama yang ada di Desa Rengel. (Septia Annur Rizkia)

Mungkin Anda juga menyukai

2 Respon

  1. Ahmad Alim berkata:

    Harga masuk gerong berapa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

×
Ada yang bisa kami bantu