Sekolah Lapang Sebagai Media untuk Meningkatkan Produksi Usaha Ibu-ibu Nelayan

Kegiatan rutinan sekolah lapang usaha nelayan merupakan bagian dari program pengembangan usaha nelayan yang dilakukan setiap dua minggu sekali, kegiatan ini merupakan media belajar dan evaluasi Ibu-ibu nelayan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi usaha. Pada kegiatan sekolah lapang ini dilakukan pada hari Rabu tanggal 03 April 2019 di Aula balai desa Karangagung. Seperti biasanya kegiatan rutianan yang telah disepakati ini berisi tentang evaluasi hasil capaian kegiatan yang telah dilakukan selama dua minggu, selain itu juga perencaan dan persiapan kegiatan yang akan dilakukan selama dua minggu ke dapan oleh kelompok dalam pengembangan usaha.
Sekolah lapang usaha nelayan ini merupakan kegiatan rutinan yang diprakarsai oleh Exxon Mobil Cepu Limited yang dilaksanakan oleh Yayasan Srikandi bersama ibu-ibu nelayan dalam mengembangan usaha olahan ikan.
Dalam kegiatan sekolah lapang kali ini membahas evalusi hasil dari kegiatan yang sudah dilakukan selama dua minggu sepekan. Fokus evaluasi bersama kali ini pada kegiatan studi banding anggota kelompok usaha nelayan ke UMK Bunda Kenjeran Surabaya, tentang hal-hal apa saja yang bisa dikembangkan dan bisa dilakukan di Karangagung untuk meningkatkan usaha dan pengolahan ikan.

Evaluasi hasil dari kegiatan ini dilakukan bersama kelompok dengan dipandu oleh fasilitator. Pertanyaan dasarnya untuk membantu menggali pengalaman kelompok adalah membuatan pertanyaan “Pengalaman Kegiatan Apa Yang Bisa Kita Terapkan Di Karanggagung Untuk Mengembangkan Usaha Kita?”
Dari pertanyaan itu mencul beberapa tanggapan dan pernyataan dari beberapa anggota kelompok sebagai berikut;
1. Nama produk bisa ditambah dengan kata “Pindang”.
Untuk lebih manarik dan mengembangkan potensi desa nama produk krupuk ditambah dengan kata “pindang”, karena pindang merupakan salah satu makanan yang khas dari Desa Karangagung, tujuan untuk membentuk presepsi publik jika ingat “pindang” pasti ingat Karangagung.
2. Membuat kemasan yang menarik.
Pembuatan kemasan yang manarik, lucu, indah, dan kemasan mudah dibawa. Tujuan kemasan ini untuk mengangkat harga produksi lebih tinggi.
3. Mempunyai target pasar ke tempat oleh-oleh.
Harus mempunyai beberapa tempat yang berpotensi untuk pemasaran seperti pusat oleh-olah.
4. Adanya inovasi baru selain membuat krupuk.
Anggota kelompok mempunyai pengalaman baru tentang olahan ikan seperti membuat sosis ikan, bakso ikan, rengginang ikan, sambal ikan, dan stik semua jenis ikan.
5. Pemasaran online
Pengalaman yang didapatkan kelompok dari studi banding yaitu pemasaran online lewat whatsapp yaitu dengan mengirikan gambar produk ke seluruh kontak whatsapp yang ada di samrtphon setiap malam.
6. Berani mencoba
Setiap anggota harus berani mencoba seperti selalu mencoba inovasi baru walapun rasanya belum sesuai, dan berani mencoba memasarkan walapun PIRT belum keluar.
7. Membentuk kampung usaha
Pengalaman yang didapatkan salah satunya adalah membentuk kampung usaha yang ada di Karangagung, agar orang luar datang untuk belajar usaha pengolahan ikan di Karangagung, dan anggota kelompok dapat menjadi fasilitator apabila ada orang lain berkunjung ke kampung usaha Karangagung.
8. Membutan bentuk produksi yang menarik.
Membuat inovasi bentuk produksi yang semenarik sesuai kebutuhan pasar agar pembeli juga bisa tertarik.
Setelah melakukan evaluasi hasil studi banding kegiatan selanjutnya membuat perencanaan secara bersama anggota kelompok. Dalam perencanaan tersebut berisi pengembangan pemahaman tentang pemasaran online melalui kegiatan pelatihan pemasaran media online yang akan dilakukan dua minggu ke depan.

Setelah itu dilanjukan dengan pembahasan analisa kebutuhan alat bagi kelompok usaha nelayan untuk memudahkan dan meningkatkan hasil produksi. dari hasil analisa ini muncul beberapa usulan alat yang menunjang produktifitas kelompok, yaitu sebagi berikut:
1. Alat penggiling ikan/ Selep ikan;
2. Alat pengaduk adonan/ alat mencampur bahan;
3. Alat pemotong krupuk;
Usulan kesepakatan alat secara bersama ini sebagai bahan untuk pemenuhan kebutuhan alat bagi kelompok agar pembelian alat dapat sesuai kebutuhan dan digunakan secara keberlanjutan bagai para penerima manfaat.
Dalam kegiatan sekolah lapang ini juga dihadiri oleh 8 mahasiwa Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Ronggolawe (Unirow) Tuban. Mereka merupakan mahasiswa yang magang di Exxon Mobil Cepu Limited yang ditugaskan untuk meliput kegiatan program pengembangan usaha nelayan di Desa Karangagagung yang didampinggi oleh Yayasan Srikandi.

Para masahasiswa magang tersebut juga ikut dalam kegiatan sekolah lapang bersama komunitas. Mereka juga melakukan beberapa wawancara ke komunitas-komunitas sekaligus wawancara pada tim Srikandi terkait program yang sudah berjalan.

Selain itu para mahasiswa bersama Kelompok melakukan perencaan bersama untuk pembuatan video tentang program usaha nelayan. Setelah itu mahasiswa magang mengajak untuk survey lokasi pembuatan krupuk di beberapa tempat. Dari tim Srikandi mengarahkan ke dua tempat yaitu di lokasi usaha kelompok timur yang bertempat di rumah Ibu Yuliana, dan di lokasi usaha kelompok barat di rumah Ibu Riyana. (A. Fahmi Zakariya)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

×
Ada yang bisa kami bantu